Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poems. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 November 2014

Aku Lelah, Bu

Diamku tak perlu kautanya, 
aku hanya tak ingin melihatmu kecewa.
Mungkin pikirmu memang baik-baik saja, 
sedang di kepalaku penuh akan makna.
Kadang, aku ingin riuh di pelukmu, 
menceritakan dukaku yang teramat dalam di sisimu.
Oh, Ibu... memandang putih di rambutmu membuatku urung. 
Aku bisa apa selain murung?
Sulit bagiku untuk percaya, 
sebegitu rumit jugakah kisah di balik hidup yang fana?
Jika Ibu ingin coba mengertiku, mengapa tak sedari dulu?
Aku lelah, Bu. 
Aku lelah mencari kasih sayang 
yang tak pernah nyata bagi separuh jiwaku...

Minggu, 07 September 2014

Apakah Ada?

Kamu yang dulu, memang bukan kamu yang sekarang. Begitu halnya dengan aku. Kehidupan telah banyak menemui perubahan, meski di kedalaman hatiku masih berkata... aku mencintaimu apa adanya. Tapi apa daya jika rasa itu enggan menemukan jawabannya, tempat labuhannya.

Kamu yang dulu, harusnya telah tertinggal jauh di dasar ingatan. Harusnya tak muncul kembali menyemai rasa yang tak berkesudahan. Pun tak berkepastian. Dan jikalau aku bertanya, bagaimana rasamu akhir-akhir ini... apakah ada aku di kedalaman hatimu? A-p-a-k-a-h a-d-a?

Entahlah! Gelengan kepalaku mungkin begitu kuat hingga kau menyadari, lagi-lagi lari! Sungguh, aku tak mengerti... mengapa rasa ini hanya indah di awal saja? Tidakkah akan menjadi indah untuk selamanya? Tidakkah akan menjadi cerita yang selalu bisa kita bagi bersama?

Entahlah! Barangkali, camar di ujung senja merutuki aku. Mau-maunya dihajar oleh dasar ingatan yang karat. Mau-maunya dimainkan rasa yang tak kenal syarat. Sebab yang kutahu, rasa cinta nan tulus memang tumbuh tanpa alasan, dan tak harus memiliki sebagai syarat akhirnya.

Rabu, 20 Agustus 2014

Bisik Rindu

Hatiku gigil, saat rindu membisik lirih begitu terampil ~ Silver

Sejenak aku merenungkan apa yang telah kutulis. Sebelum kata itu terlahir, terlebih dulu aku menuliskan dua baris sajak berbalut rindu*. Lebih tepatnya tentang mimpi dan rindu. Entahlah, haruskah kutulis dan kuberi tahu padamu? Tapi kata itu begitu saja meluncur dari kedalaman bawah sadarku. Seolah memimpikanmu adalah hal yang benar-benar membuatku rindu. Seolah memimpikanmu adalah hal yang sanggup membawamu kembali di hadapku.

Sungguh, aku tak pernah mengerti mengapa mimpi menghadirkanmu! Nyatanya, aku tak terlalu sering memikirkanmu. Hanya sekali-kali saat karat ingatan berhasil merayuku. Mungkin aku kalut. Mungkin juga takut. Kehilanganmu menyita perhatianku saat pertemuan dan perpisahan kita. Kehilanganmu membekukanku. Dan saat mimpi menghadirkanmu, aku luruh! Aku ingin semua orang tahu bahwa kita pernah menjalin rindu di waktu-waktu lalu.

Silver, sekalipun aku tak pernah membayangkan akan menggunakan singkatan itu untuk mendeskripsikan jalinan kita. Bahkan jika kamu membacanya, belum tentu kamu akan mengingatnya. Kamu masih seperti yang lalu, berputar-putar tanpa pernah benar-benar diam menempati. Dan aku, seolah tak beranjak dewasa saat kamu datang dan pergi dengan sesuka tanpa satu kata yang pasti. Ah, harusnya aku bisa terbang tinggi lagi tanpamu.

*Memimpikanmu lagi-lagi, mendesahkan hatiku yang tak pernah benar-benar kautempati.
Merdekakan aku, tuan! Agar mimpi tentangmu bias tak menjejakkan kerinduan.

Selasa, 05 Agustus 2014

Airmata Kerinduan

Tak perlu kuhitung tetesan hujan di luar sana,
sebab aku jemu menanti bianglala di malam hari yang tak pernah ada.
Seperti kamu...
Entah di mana lagi 'kan kukisahkan repih luka berbatas waktu.
Tangisku mungkin pecah seirama tetesan hujan, sayang.
Tapi apa daya bila kau slalu abaikan dan menghilang.
Sungguh, sekalipun waktu membiarkan aku berlari jauh,
bayanganmu tetap utuh.
Sedang hujan...
Biar saja mengalir merupa airmata kerinduan,
untukmu di kejauhan.

Senin, 04 Agustus 2014

Aku Masih di Sini

Barangkali hukuman ini memang pantas,
meski aku juga harus bergegas.
Bukankah tiap kesalahan mempunyai
kapasitasnya sendiri untuk direnungkan?
Lain halnya denganmu, berpikir panjang tanpa satu jalan.
Tak bisakah kita bersama memperbaiki semua itu?
Ah, harapanku kian ketinggian. 
Bahkan Tuhan mungkin tak mengizinkan. 
Apalagi kamu yang slalu mengabaikan.
Apa yang terjadi di antara kita memang meninggalkan repih luka, 
tapi harusnya kita bisa merekatkan ia agar tak kian menganga.
Aku masih di sini, menantimu kembali 
hingga tak terhitung berapa kali lagi nyeri menghujam diri.
Aku masih di sini, berpura-pura mengembangkan senyum 
di atas repih luka yang pernah menyayat hati.

Sabtu, 02 Agustus 2014

Sewaktu Aku Ingin

Aku membayangkanmu begitu mesra, sebab mengucapkan namamu tak pernah mendatangkan sosokmu di depanku. Hanya wajahmu dalam bayanganku, menari-nari di atas gejolak rindu. Hanya kamu dalam benakku, sosok teramat betah mendiami ruang hatiku.

Entah sudah berapa lama, jika bisa kuhitung ... mungkin sudah berjalan hampir enam tahun. Enam tahun. Enam tahun. Ah, tapi hitungan waktu itu tak bermakna bagimu. Akulah yang selalu menjadi detik, merasakan sakit dan bangkitnya diri dari jatuh cinta kepadamu.

Sewaktu aku ingin memeluk erat tubuhmu, kau tak ada di sini. Sewaktu aku ingin kau di sisiku, kau juga tak ada di sini. Kau tak pernah benar-benar ada di sini! Dan aku tenggelam dalam curahan hati berbalut kegelapan malam tanpa bintang. Dan aku, perasaanku tak menentu.

Aku tak mengharapkan sesuatu yang lebih darimu, sebab kesadaranku pulih jika mengingat betapa sewaktu aku ingin. Sebagai kekasih yang tak kau anggap pun, aku tak mengharapkan sesuatu meski simpulanku ternyata keliru. Bagaimana bisa cinta menuai derita jika kupupuk dengan satu tuju?

♥ Terinspirasi dari lagu Ada Band - Kau Tak Ada di Sini ♥

Kau jauh dari aku tuk sekian lama
Ku merindu, ku tersiksa, ini yang kurasakan
Sewaktu aku ingin memeluk erat tubuhmu
Sewaktu aku ingin kau di sisiku
Kau tak ada di sini

Hari-hari kulalui menunggu kau hadir
Perasaan tak menentu galau kurasakan
Sewaktu aku ingin memeluk erat tubuhmu
Sewaktu aku ingin kau di sisiku
Kau tak ada di sini

Cepatlah kau datang sayang, aku tak kuat lagi
Bila kau tak datang bisa-bisa detak jantung ini terhenti

Sewaktu aku ingin memeluk erat tubuhmu
Sewaktu aku ingin kau di sisiku
Sewaktu aku ingin memeluk erat tubuhmu
Sewaktu aku ingin kau di sisiku
Kau tak ada di sini

Minggu, 08 Juni 2014

Aku Merindukanmu, Mencintaimu


~~~♡~~~
Bisakah kau lihat ke kedalaman mataku?
Sebab isyarat rindu tak tersampaikan
lewat rintik hujan di langit kelabu.
Aku merindukanmu,
hingga tak terhitung harus berapa kali lagi 
kusebutkan namamu dalam rapal doaku.
 Aku mencintaimu,
menikmati indah dan sakitnya hati yang jatuh
di saat cinta menemukan tempat tuk berlabuh.
Jika aku berkata benci, itu juga benar yang terjadi.
Sejatinya, cinta memang memiliki banyak rasa tanpa tepi.
Dan bisakah aku melihat ke kedalaman matamu?
Melabuhkan cinta pada tempatnya,
tempat yang kau sembunyikan dalam ragu dan tatap pilu.
Jangan kasihani aku, tapi cintailah aku!
Sebab cinta bukanlah lelucon
yang bisa kau mainkan sesuka hatimu.
Aku merindukanmu, mencintaimu.
~~~♡~~~

Minggu, 27 April 2014

Hadiahku Untukmu

pic from here
Puisi ini didedikasikan untuk penyair favoritku, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono ^-*

Aku ingin menghadiahimu dengan kata:
seolah bait-bait ini lahir begitu saja
tanpa mengenal apa artinya cinta

Aku ingin menghadiahimu dengan kata:
seolah jiwa ini bebas tanpa nelangsa
walau kelamnya ajari banyak makna

Apakah kamu ingin tahu?
cinta nan sederhana tak semudah bayanganku
terlebih saat hujan bulan juni menyapaku

Apakah kamu juga ingin tahu?
cinta nan sederhana memang memiliki liku
terlebih saat maknanya tak penuhi inginku

Duhai tuan, ini hadiahku untukmu!
tak perlu banyak kata, baca saja tanpa ragu
sebab cinta nan sederhana hanya satu; kamu


@Susi_SmileKitty
#Puisi untuk Penyair Favorit
#PuisiHore3 [8]

Rabu, 23 April 2014

Tetesan Rindu

Dapatkah kukatakan 'aku rindu padamu' ke kamu?
Mungkin itu hanya satu pertanyaan di benakmu
Sedang di sini, di kedalaman hati ini...
Pertanyaan itu berakar, tumbuh seiring tetes hujan di luar sana
Ya, aku rindu padamu!
Aku rindu saat pertama kali kita berjumpa meski tanpa sapa
Aku rindu saat kedua kali kita saling mengenal walau tersipu malu
Aku rindu saat ketiga kali kita mencuri pandang dan tersenyum
Seolah dunia tersita, menyisakan aku dan kamu saja
Aku juga rindu saat keempat kali, kelima kali, bahkan berkali-kali
Entah tak terhitung lagi...
Jadi, dapatkah kukatakan 'aku rindu padamu' ke kamu?

"Hai, puan! Bukankah sudah kau katakan sedari tadi?"

"Ah, iya! Kau benar, aku mengatakannya tanpa sengaja."

Duhai, kasih...
Lihatlah, dengarlah, aku memang rindu padamu
Bahkan isi dalam kepalaku selalu bercerita tentangmu
Mengajakku meliuk, menarikan tetesan rindu
Yang menggema di sepanjang sepi tak bertuan

Minggu, 20 April 2014

Sajak Cerita Cinta

Pada tanah yang basah
Tak sengaja kutarikan rindu bersama tetes hujan
Tersebab sebuah rasa yang tak tersampaikan
Tentang kamu, membayang di celah ingatan

Pada rindu yang desah
Tanyaku enggan terjawab perjalanan waktu
Tak apa, barangkali rel ketakmungkinan memang baku
Tepiskan mimpi, membuih di udara nun jauh

Pada hati yang resah
Tabah rasa mungkin pernah menyusut seketika
Tak ubahnya ego tersulut api amarah
Tebal, diam-diam enggan percaya cerita cinta


sHie
#EmpatElemen
#PuisiHore3 [6]

Kamis, 17 April 2014

Akulah Sang Mata

pic from

Akulah sang mata
Menjaga tiap-tiap rahasia
Entah satu, dua, insan manusia
Baik tentang Adam maupun Hawa

Akulah sang mata
Menatap tajam pada dunia
Baik buruknya, ada tidaknya
Sebab segala yang ada, terasa fana

Akulah sang mata
Terlahir dengan dua jiwa
Sekali waktu, enggan berkaca
Seolah rasa meneriaki seribu logika

Akulah sang mata
Terpenjara dalam lukisan tua
Sedang di kepala, ingatan meraja
Berontak dalam gejolak yang tak nyata

Duhai Adam dan Hawa
Jangan tatap aku dengan sepasang mata
Sebab aku telah menatapmu begitu lama
Sebab akulah sang mata, terjebak satu cerita


sHie
#MemuisikanLukisan
#PuisiHore3 [5]

Minggu, 13 April 2014

Kidung Pagi

pic from favim.com

Kemarilah, kasih...
Menyatu bersama kanvas putih

Semesta takkan biarkanmu sendiri dalam sepi
Bukankah bersama lebih baik walau kadang hatimu begitu kalut tanpa henti

Kemarilah, kasih...
Menyatu bersama kanvas putih

Air matamu tak boleh jatuh melewati pipi
Sebab ia terlalu berharga bagi seseorang yang tak pantas kautangisi

Kemarilah, kasih...
Menyatu bersama kanvas putih

Semesta pasti akan selalu mengerti apa yang terjadi
Bukalah hatimu untuk melihat lebih dalam lagi, yang dahulu telah berakhir kini

Kemarilah, kasih...
Menyatu bersama kanvas putih

Air matamu hanyalah penghias dari sebuah kata pergi
Sebab itu, lihatlah aku di sini, melengkungkan senyum serupa pelangi

Kemarilah, kasih...
Menyatu bersama kanvas putih

Semesta hidupmu akan kudekap bak pengisi hati
Bukankah lebih baik begini, tersenyum menyambut kasih putih pada pagi


sHie
#Perenungan
#PuisiHore3 [4]

Kamis, 10 April 2014

Potret Senyawa Kasih

Duhai kasih...

Apa rasanya jatuh cinta tanpa kasih?

Terhalang celah-celah jeruji besi


 sHie
#PuisiTulisTangan
#PuisiHore3 [3]

Minggu, 06 April 2014

Rinduku Kamu

Rona merah jambu menyapaku
Isyaratkan getar rindu di titian kalbu
Nyanyikan basah hati teramat syahdu
Dan perlu kamu tahu bahwa dinding hati tak selamanya beku
Umpama batu ditetesi hujan terus menerus tak kenal waktu

Kamu, ya... kamu!
Usik saja aku dengan ingatan biru

Kadar maupun radar sudah tak terhitung ribu
Aku merindukanmu, duhai tuan pencuri hatiku
Manakala getar rindu dan basah hati sampai kepadamu
Usah kamu ragu sebab rinduku kamu, rinduku kamu

sHie
#PuisiAkrostik
#PuisiHore3 [2]

Sabtu, 05 April 2014

Senandung Jodoh Takkan Kemana

Jodoh memang takkan kemana
Tapi aku tak ingin bila ada yang terluka
Pabila jodoh hanya dijadikan ajang memaknai rasa

Jodoh, satu kata sirat tanya
Manakala dua hati dipertemukan satu nada
Percayakah kekuatan jodoh memang takkan kemana?

Ah, entahlah...
Biar saja kalbu yang berbahasa
Menyenandungkan rona-rona cinta

Sebab hati takkan ingkar bila memang iya
Dan mungkin jodoh memang takkan kemana
Bila takdir telah benar-benar terjawab oleh Sang Maha Cinta

~~~♡

Jumat, 04 April 2014

Hilang

Hilang, mungkin karena aku memang membosankan
Tak ubahnya bibir tanpa suara
Lidah kelu tanpa kata

Hilang, mungkin karena aku memang tak layak dipandang
Tak ubahnya hati tanpa rona-rona
Luka tersebab 'rasa'

Hilang, dan mungkin aku kan benar-benar hilang
Ditelan malam tak berteman bintang
Sedang pekatnya begitu membayang

Hilang, dan mungkin terbang tak kenal tujuan
Entah kepada angin malam berkepanjangan
Atau kamu di persimpangan jalan

Kamis, 03 April 2014

Teriak Dada

Ada yang terlupa, pada satu masa
di kedalaman dada.

Ada yang tersiksa, kala ingatan meraja
perjuangan tokoh bangsa.

Ada yang bungkam dan hilang, ditelan perubahan zaman
meski cabikannya terbayang.

Ada yang terlupa, tersiksa, bungkam, dan  hilang bagai pengkhianatan
sedang dalam dada berteriak penolakan.

sHie
#MenolakLupa
#PuisiHore3 [1]

Selasa, 25 Februari 2014

Aku Misalnya

Di bilik jendela,
seorang pria menyibak tirai sambut cahaya,
di dadanya, cinta perlahan mekar dengan sejuta warna.

Senyumnya tersungging manja,
pipinya pun merona,
menandakan Tuhan tlah menitipkan sebuah altar jiwa padanya.

Aku menyaksikannya lewat mata-mata,
sedang di dadaku riuh bertanya siapa,
adakah cinta mengetuk sebuah nama? Aku misalnya.

Minggu, 19 Januari 2014

(Bukan) Gadis Remaja


Seorang gadis kehilangan kata, bak sekoci terdampar di tengah laut, atau diri tersesat dirimba hutan.

Ia ingin berteriak tapi lidah kelu menahan suaranya, dan airmata selalu saja mencaci kebisuannya.

Sedang di dalam kepalanya, katakata menyerupa gelombang yang meminta untuk segera diresonansikan.

Lewat pantulan cermin, ia bertanya pada dirinya sendiri, meraung-raung menyenandungkan "apa yang harus kulakukan?"

"Biar aku saja yang melakukan, tentunya di dunia cermin," kata pantulan dirinya secara tak terduga.

Ia tergelak, lalu melihat ke dalam cermin, tak ada siapapun selain patung dirinya, dan kebisuan kembali melanda.

Pola pikirnya menggerakkan satu langkah, ia melukai jari telunjuk kanannya hingga berdarah.

"Seorang gadis tak boleh kehilangan kata," begitu tulisnya. Lalu ia tersenyum bak seringai serigala.

Entah sudah berapa kali ia melakukan hal yang sama, seolah katakata tak menyadarkan waktu yang dimakan usia, sebab ia (bukan) gadis remaja tanpa percaya.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...