Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Short Story. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Agustus 2014

Rahasia Nana

Berdiri tegar di atas repih luka itu tidaklah mudah. NN

Begitu selesai menuliskan sepatah kata itu di lembar bisu, Nana mulai meneteskan airmata. Ceruk luka di hatinya tak mampu membendung lagi airmatanya. Segalanya tumpah ruah, banjir tak terhingga. Suara ketukan di luar pintu kamarnya pun tak didengarnya. Nana hanya terus mengurung diri, memenjarakan sepi teramat dalam. Bahkan sinar matahari cerah tak diizinkannya masuk melalui celah-celah jendela. Apalagi orang-orang terdekatnya! Satu-satunya yang paling diingini adalah N... Noval!

“Na, Ibu mohon jangan menangis lagi, sayang. Lupakan semua itu, tak ada gunanya kamu menutup diri. Lagipula Noval telah memilih jalan hidupnya sendiri. Kamu harus bangkit, sayang. Cuma kamu yang Ibu punya.”

Nana tak menyahut. Rupanya Ibu selalu berdiri di balik pintu, berharap Nana segera keluar dan menunjukkan keceriaannya seperti dulu, setahun yang lalu. Nana menggelengkan kepalanya kuat-kuat, diteriakkannya kata ‘tidak’ berkali-kali. Tak ada yang sanggup menghiburnya kecuali Noval. Noval yang terkasih, yang memilih pergi setelah berhasil menyakitinya dengan sesuatu yang tak pernah Nana inginkan. Noval yang pertama, yang juga diingininya sebagai yang terakhir. Tempat melabuhkan segala yang ia punya.

Nana tak peduli. Ia membanting apa saja yang ada di dekatnya. Meski bunyi barang-barang itu tak lagi sama. Nana tetap tak peduli. Setelah sekian menit membanting barang, ia membantingkan dirinya ke lembah kasur yang lapuk, berbekas airmata dan debu. Jelas saja, sudah setahun tak pernah dibersihkannya. Ia terlalu betah berlama-lama di dalam kenangan. Ia terlalu cinta kepada Noval, hingga tak pernah dibiarkannya kenangan pergi begitu saja.

“Bagaimana kabarmu, Val? Aku merindukanmu, sangat rindu.”

Mrs. Bennet yang sudah lama menetap di kepalanya mulai mengetuk kepalanya.

“Mrs. Bennet, apa yang harus kulakukan? Tidakkah kau akan pergi dari kehidupanku?”

“Oh, tidak. Aku tak bisa membiarkanmu dalam masalah. Aku seorang Ibu yang mempunyai lima putri. Sebagai Ibu, aku juga memikirkanmu, Nana.”

Miss Elizabeth yang mondar mandir di tengah kepalanya, tiba-tiba berseru, “Mama, apa yang kau tahu dari kebahagiaan? Kau hanya memikirkan kesenanganmu saja. Lihatlah Jane, ia dicampakkan Mr. Bingley.”

“Mr. Bingley memang kaya, Miss Lizzie.”

Well, i know that so much. Did you know Noval, Nana?”

“Tentu saja! Kau jangan seenaknya merendahkanku. Aku tahu betul siapa itu Noval, bagaimana caranya memperlakukanku. Mungkin pada saat itu, ia hanya tidak siap untuk bersamaku, berbagi kisah lebih lama denganku. Sedang kau, kau pikir bisa berlama-lama membenci Mr. Darcy? Hah?!”

Miss Elizabeth meloncat keras, membuat Nana hampir melayangkan tinju ke kepalanya.

“Kau salah, Nana!” teriak Miss Elizabeth.
“Apa? Apanya yang salah? Bukankah kau selalu menghindar dari tatapan itu? Apa kau tak bisa membaca perasaan Mr. Darcy? Ia pria yang tampan, sebelas dua belaslah dengan Noval. Kalau aku jadi kau, aku pasti membalas tatapan itu dengan tulus.”

“Aku hanya perlu waktu untuk membiarkan perasaanku tumbuh. Serupa percaya akan indahnya cinta, bukan kesenangan semata. Bukankah itu juga yang selama ini kauinginkan dari Noval?”

“Miss Lizzie, ...” Nana tak meneruskan kalimatnya,  sebab hatinya kembali terluka.

Kata-kata Miss Lizzie memukul telak ulu hatinya. Ia tak tahu lagi kemana harus mencari labuhan hatinya. Noval telah pergi, sejauh mungkin. Hanya kenangan, bahkan cerita dalam film Pride and Prejudice yang jadi film terakhirnya bersama Noval pun selalu menetap di kepalanya.

Lagi dan lagi, airmata menetes hingga sekian kali. Basah di kasur, bantal dan guling tak dihiraukannya. Ia sangat merindukan Noval. Noval yang dicintainya, benar-benar pergi dengan cara yang tragis setelah tak lama pisah darinya. Noval bunuh diri, menghunuskan tajam pisau tepat di jantungnya. Noval tak tahan lagi, kehidupannya yang broken home meruntuhkan kebahagiaannya sendiri ketika mengenal Nana. Bukan salah Nana, bukan juga kesalahan waktu yang mempertemukan mereka.

*end

Rabu, 16 April 2014

You Are The Pirate of My Heart

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Proyek Menulis Letters of Happiness: Share your happiness with The Bay Bali & Get discovered!
Pic from here

Andra, lelaki tambun dengan rambut sebahunya, sibuk menyiapkan seperangkat alat untuk para wisatawan yang berkunjung. Entah itu untuk family, sepasang muda mudi atau anak-anak yang hendak bermain sesuka hati. Aku memperhatikannya seraya membersihkan bantal-bantal di sebuah pondok, mengintip melalui celah-celah kayu atau daun yang menghalangi jarak pandangku.
            Tugasku memang tak terlalu berat seperti Andra. Di waktu senggang, aku malah ingin membantunya. Kebetulan, hari ini kami memang banyak orderan. Ada tiga tamu yang memesan Pirates Quarters. Meski begitu, kami tak boleh berleha-leha tanpa sengaja. Kami, sebagai pelayan di The Pirates Bay harus siap siaga sesuai jadwal kerja.
            “Hai, Dian. What’s on your mind?
            “Hah? What?
            Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti. Mr. Mike rupanya memergokiku dari lantai bawah. Seketika, aku menoyor jidatku sendiri dan bergumam sesuatu yang mungkin terdengar oleh Mr. Mike.
            “Dian. Lakukan tugasmu dulu, oke?”
            “Oh, oke, Mr. Mike.”
            Perintah Mr. Mike yang tegas itu benar-benar membuatku sadar. Ah, alangkah bodohnya aku! Pekerjaan paruh waktu yang kulakukan ini harusnya tak boleh kusia-siakan dengan memikirkan Andra yang belum tentu memikirkanku.
            “Go, go, go. Dian pasti bisa!”
            Kutepuk-tepuk bantal bulat besar bersarung merah hati yang terletak di tengah pondok. Begitu seterusnya hingga tak tersisa debu yang menempel. Aku jadi ingat kejadian beberapa bulan yang  lalu, saat Andra belum diangkat menjadi ‘Pirate’, atau tepatnya pelayan yang menjelaskan tentang aktivitas di The Pirates Bay, Bali. Saat itu, kami sama-sama ditugaskan untuk membereskan Pirates Quarters. Kami bersenda gurau di tengah-tengah waktu senggang dengan saling menimpuk bantal. Tawa girang kami akhirnya ketahuan oleh Mr. Mike dan saat kami selesai dimarahi Mr. Mike, kami melempar senyum penuh bahagia.
            “Dian! Diaaan!” teriak sebuah suara.
            Aku celingak celinguk mencarinya.
            “Dian, di sini, di belakangmu. Are you okay?” tegur Echi, asisten Mr. Mike, dari pondok pertama yang telah kubersihkan. Sebagai asisten, Echi tentu bertugas mengawasi setiap karyawan. Hanya saja, ia tak setegas Mr. Mike. Echi sudah seperti keluarga bagiku.
            “Eh, Echi. Ya, ya, i’m okay.”
            “Terus, kenapa kamu ngelamun? Ngelamunin Andra, ya?”
            “Pelan sedikit kenapa sih?” desisku. “Nanti ketahuan sama Mr. Mike.”
            “Yeee, bilang aja takut ketahuan sama Andra.”
            “Bukan begitu. Kau tentu mengerti, Chi. Ini semua sudah berbeda, tak sama seperti dulu lagi.”
            “Kau sudah selesai belum membereskan Pirates Quarters di situ?” tanya Echi.
            “Oh, sudah.”
`           “Oke, sebentar lagi Echi ke situ. Wait a minute, Dian.”
            Kuanggukkan kepala lalu menunggunya menaiki tangga di pondok kedua.
            Tak sampai satu menit, Echi telah berada di sampingku. Berdiri di dekat pohon kayu besar tak jauh dari tepi tangga.
            “Dian, mau sampai kapan kau simpan perasaan itu?”
            “Entahlah, Chi. Andra telah benar-benar membajak hatiku. Aku tak bisa mengatakannya.”
            “Hah, kau ini!” Echi membuang muka, menatap laut biru di kejauhan sana.
            Tanpa sengaja, kuambil sebuah bantal bulat kecil dan memeluknya erat. Kubayangkan bantal itu sebagai Andra. Kalau sudah seperti itu, perasaanku menjadi tak tentu rudu.
            “Dian, apa harus Echi yang menyampaikannya ke Andra?”
            “Maksudnya, Chi?”
            “Kau tahu, di antara tiga tamu hari ini, ada seseorang yang begitu dinanti Andra. Katanya, teman lama yang pernah mengisi relung jiwanya.”
            “Yang benar, kamu, Chi?”
            “Kalau tak percaya, tanya saja langsung ke Andra.”
            Aku diam, mematung, memandang matahari yang akan naik ke singgasananya. Menebar sinar cerah namun tak secerah hatiku saat ini. Pernyataan Echi mengusik ingatanku, tapi hanya sepotong-potong bagai puzzle yang enggan bersatu. Semakin aku mengingatnya, kepalaku semakin terasa berat.

~ ~ ~

“Dian, nanti setelah pulang kerja, kamu ada waktu?”
            Setelah sekian lama berkutat dengan tugas masing-masing, akhirnya Andra menyapaku di waktu senggangnya.
            “Tumben kamu tanya begitu, Ndra. Ada apa?”
            “Aku pengin kita mengenang masa dulu. Ah, tapi kamu pasti belum mengingatnya.”
            Kucerna kata-kata Andra yang mampir di gendang telingaku. Tapi kamu pasti belum mengingatnya. Apa maksudnya, ya?
            Karena tak ingin berdebat panjang lebar, aku menjawab sekenanya. Nanti, pasti akan kuketahui apa makna kata Andra.
            “Baiklah. Di mana?”
            “Di kapal. Bisa, kan, ya?”
            Aku tak menjawab. Tapi anggukan kecil di kepalaku pasti terlihat oleh Andra. Ia menyunggingkan senyumnya.
            Setelah pertemuan singkat itu, kepalaku dipenuhi pikiran-pikiran aneh. Mulai dari pernyataan Echi tadi pagi tentang seseorang yang pernah mengisi relung jiwa Andra, sampai ke kenangan masa dulu yang diutarakan Andra. Aku benar-benar bingung, siapa sebenarnya seseorang itu? Sudah pasti, ia adalah seorang wanita. Tapi, siapa? Lalu, apa maksudnya kenangan masa dulu? Apa ada hubungannya dengan seseorang yang akan ditemuinya? Ah, entahlah!

~ ~ ~

Kulirik jam tangan Channel putih di tangan kiriku. Setengah lima lewat lima. Matahari telah berpindah tempat, hendak digantikan bulan lambat-lambat. Sementara itu, sinar jingganya menyilaukan mata. Tapi tetap saja, jika berada di Nusa Dua, sinar jingga senja adalah satu-satunya hal terindah.
            “Gimana? Apa kamu mengingat sesuatu?” sapa Andra.
            “Andra. Tentu saja. Waktu itu, sebelum kamu dinobatkan menjadi ‘Pirate’, kita pernah bermain di tepi pantai Nusa Dua.”
            “Bukan, bukan itu.”
            “Lalu, apa? Aku tak mengerti.”
            “Baiklah. Tunggu sebentar, ya. Akan kubawakan seseorang untuk mengingatkanmu tentang semua itu.”
            Dalam hitungan detik, berdirilah seorang wanita yang sama sekali tak pernah ingin kulihat wajahnya. Jelas aku mengingatnya, ialah Netri, wanita perebut cinta masa kecilku. Tak banyak yang berubah dari wajahnya. Hanya saja, badannya terlihat kurus dan matanya sayu seperti orang yang sedang mengalami sakit berat.
            “Hai, Di. A-apa ka...,” belum sempat Netri meneruskan salamnya, aku memotong lebih dulu.
            “Jadi, wanita ini yang pernah mengisi relung jiwamu, yang akan kau kenalkan padaku. Apa arti semua ini, Ndra?”
            Aku hendak berlari saat mereka berdua tak menggubris perkataanku. Tapi satu sentakan Andra menghentikan langkahku.
            “Di, dengar dulu. Ini tak seperti yang ada dalam pikiranmu.”
            “Kamu tahu apa tentang pikiranku, Ndra? Selama ini, selama ini, aku selalu menyimpan rapat-rapat perasaanku. Tapi hari ini, rasanya aku mau gila!”
            “Kata itu juga yang pernah kamu ucapkan sewaktu dulu. Ya, kan?”
            Bagai tersambar petir, kepingan memori berjejer mengutuhkan puzzle yang sedari tadi enggan bersatu. Hari itu, di tepi pantai Nusa Dua, aku, pria bernama Andra juga, dan Netri terlibat pertengkaran sengit. Aku marah, memberontak, tak terima pada kenyataan. Andra yang kusuka direbut oleh Netri, sahabatku sendiri.
            Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. Aku tak mau menjadi gila. Tapi, apakah kejadian dulu akan terulang kembali? Oh, tidak! Aku tak bisa jika harus merasakan kehilangan seperti ini.
            “Di, Netri kesini ingin meminta maaf padamu. Lagipula, apa kamu benar-benar lupa sama aku?”
            “Kamu? Kamu, Andra.”
            “Andra Prasetya. Andra masa kecilmu, Di.”
            “Ap-apa?! Nggak, nggak mungkin kamu Andra Prasetya. Andra Prasetya itu....”
            “Andra Prasetya itu putih, gemuk, tapi rapi dan wangi, kan? Tapi... Andra yang sekarang, Andra yang di depanmu, udah nggak putih lagi, udah nggak gemuk lagi.”
            Perlahan, kutatap wajah Andra di depanku. Tatapan matanya masih sama seperti yang dulu, cokelat tua yang teduh. Samar-samar, potongan puzzle itu kembali menyatu, menyeruak dadaku. Apa yang kuharapkan dari pertemuan ini?
            “Di, apa kamu ingat surat-surat yang pernah kamu tulis untukku?”
            “Surat?”
            “Bukankah tiap tahun kamu selalu melakukannya?”
            Andra mengeluarkan sebuah kotak yang disimpannya di dalam kapal. Entah bagaimana, aku merasa harus percaya padanya. Di dalam kotak itu, terdapat berlembar-lembar surat yang menyatakan perasaanku. Aku menaruh surat itu di dalam botol, menghanyutkannya di pantai Nusa Dua saat senja hampir berakhir. Tapi malangnya, aku tak pernah benar-benar menyaksikan surat itu hanyut terbawa arus pantai.
            Kini, surat di dalam kotak milik Andra, menjadi bukti bahwa ia memang pembajak hati. Meski aku sangsi, sebab Netri seolah tak merelakan Andra menjadi milikku hingga nanti.
            “Di? Diandra?” panggil Netri seketika.
            “Hah? Diandra? Dari mana kamu tau nama singkatan itu?”
            “Dari Andra. Dia sering cerita ke aku, dan aku sadar setelah kamu pergi meninggalkan kami waktu dulu. Seharusnya, aku tak berani melakukan hal itu. Terlebih, kamu adalah sahabatku.”
            “Lalu?”
            “Aku minta maaf, Di. Aku menyesal.”
            “Kenapa baru sekarang kamu bicara menyesal?”
            “Udah, Di. Kasihan, Netri. Dia lagi sakit. Ada baiknya kita semua mengambil pelajaran dari semua yang pernah terjadi. Lagipula, aku perhatikan, kamu udah banyak berubah, Di.”
            “Tapi, kebahagiaanku?”
            “Bukankah kebahagiaan bisa kamu ciptakan sendiri, Di? Harusnya kamu juga sadar setelah tahun-tahun ketakmungkinan kita. Harusnya aku jujur saja waktu pertama kali kita jumpa di Nusa Dua, sebagai pelayan di The Pirates Bay.”
            “Kamu..., aku harus bilang apa?”
         “Nggak ada yang harus kamu bilang, Di. Yang ada, serahkan saja hatimu padaku. Karena akulah pembajak hatimu. Begitu yang kamu mau, kan?”
            “Kamu curang. Kamu membaca semua isi suratku.”
            “Setidaknya, itu bisa membuatmu tersenyum. Aku bahagia jika kamu bahagia, Di. Diandra. Dian dan Andra.”
            Tanpa banyak kata maupun tanya, senyumku memang lepas begitu saja. Dan harus kuakui, aku telah memaafkan Netri begitu lama, meski memandang wajahnya menyisakan guratan luka. Ah, andai saja waktu bisa kuputar kembali ke sebuah masa. Tapi sudahlah. Seperti kata Andra, seharusnya kebahagiaan bisa diciptakan sendiri di tiap-tiap jiwa.
            “Andraaa, you are the pirate of my heart!” teriakku pada senja yang hampir berakhir.

~ The end ~

Rabu, 17 Juli 2013

Jujur Itu Indah



Sabtu, 23 Maret 2013.
Pukul 20.00 WIB. Aku telah selesai mandi, lalu kuoleskan alas bedak di wajahku. Tak lupa pula, bedak dan perlengkapan kosmetik lainnya seperti; lipstik, blush on, eyeshadow, eyeliner, parfum, dan lainnya. Semua itu telah melekat dalam keseharianku. Dan kini, aku tinggal memakai pakaian yang cocok dengan riasanku. Aku pasti kelihatan lebih cantik dari yang lain. Dan, pria-pria itu pasti terpesona dengan kecantikanku. Karena mataku, selalu memancarkan kilau itu. Biru, ya... mataku berwarna biru seperti mata-mata orang bule. Mungkin benar, aku memang anak bule. Tapi bule darimana, aku tak tahu. Ibu tak pernah menceritakannya padaku. Ibu juga tak tahu mata biru itu milik siapa.

Pukul 21.00 WIB. Alarm di ponselku telah berdering beberapa menit yang lalu. Menandakan bahwa waktunya telah tiba, dan aku siap untuk berangkat kerja. Mencari recehan uang dari lelaki hidung belang. Entahlah, aku tak memikirkan asal usul mereka. Aku cuma perlu uang, uang dan uang. Uang yang membuatku lebih dihargai. Meski jujur, aku tak suka dengan caraku mendapatkan uang tersebut. Tapi apa boleh buat? Inilah kisahku.
Tiap malam, aku selalu pergi ke markas para wanita cantik. Dengan dandanan yang tak terlalu menor dan pakaian yang minim. Pun, bahan yang pas di badan alias ketat sehingga memperlihatkan kesan seksi saat pandangan pertama. Awalnya aku tak pernah ingin berkecimpung dengan dunia ini. Dunia yang bagiku terlalu kotor. Dan jujur, semakin aku terjun di dalamnya, aku semakin merasa kotor dan tak pernah bersih apalagi suci.
Ya Tuhan, salahkah jika aku begini? Perlahan, air mataku tumpah. Aku sudah tak tahan lagi. Satu, dua lelaki mungkin pernah menyukaiku. Tapi tak jarang, ada juga yang tak suka. Kalau aku boleh jujur... aku juga tak suka. Aku ini laki-laki, sama seperti mereka. Cuma saja, parasku memang cantik. Cantik seperti wanita kebanyakan. Bahkan, mungkin wanita-wanita yang menjajakkan dirinya merasa iri padaku.
Pukul 21.12 WIB. Aku terlena dengan pikiranku. Seharusnya aku sudah berangkat sedari tadi. Lalu, dengan langkah terburu-buru, aku pergi meninggalkan kamar kosku. Ya, aku memang tinggal sendiri setelah ibu meninggalkanku. Aku tak mengenal siapa-siapa di kota besar ini. Yang aku kenal, cuma salah satu teman ibuku yang bekerja di sebuah pub. Ibu tentu saja berpesan padaku sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya. Dan disinilah aku, di sebuah pub yang selalu buka kala malam menjelang.
Pukul berapa, aku lupa. Tapi satu yang kuingat, aku bertemu dengan salah satu pelanggan yang membuatku tersipu malu. Sebut saja namanya Pram. Ia lelaki yang lembut. Ia tak ingin menyakitiku apalagi meraba-raba atau seperti yang biasa dilakukan oleh lelaki lain. Ia juga tak ingin aku melayaninya dengan hal-hal semacam itu. Ia malah memintaku untuk menemaninya berbincang-bincang. Kuakui, Pram memang berbeda. Sekonyong-konyong, ada sesuatu yang terasa mengalir begitu deras dalam darahku. Perasaan yang tak tahu harus kunamai apa.
Sabtu, 30 Maret 2013.
Pukul 22.30 WIB. Aku bertemu lagi dengan Pram. Pram pun seolah tak ingin dilayani oleh wanita lain. Aku tentu saja senang, selain ia memperlakukanku lembut, ia juga tak kurang ajar. Perlahan tapi pasti, aku mulai menyukainya. Salahkah perasaanku ini? Walaupun kami baru bertemu dua hari di hari Sabtu, tapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama pernah bertemu. Aku senang bila ia berbicara panjang lebar padaku. Menceritakan kisah hidupnya yang terasa hampa tanpa pendamping. Sementara aku… aku tak tahu harus darimana kuceritakan kisah hidupku padanya. Aku juga ingin mempunyai pendamping, tapi apakah ia mau menerimaku kalau ternyata ia tahu tentang kondisiku? Pun, pada waktu yang mungkin menyambut perasaanku pada perasaannya? Entahlah.
***
“Mulan, kamu lagi sibuk nggak?”
“Tidak, Pras. Aku tak sibuk kalau hari Sabtu begini. Waktuku akan selalu ada untukmu.”
“Temani aku ngobrol seperti biasa, bisa kan?”
“Tentu saja. I’m ready for you, Pras.”
“Kamu itu! Aku udah pernah bilang jangan ngomong seperti itu kalau denganku. Kalau dengan lelaki lain, terserah apa katamu.”
“Pras, ini sudah tugasku.”
“Apa mereka tahu tentang perasaanmu yang sebenarnya?”
“Maksudmu?”
Pras mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Isinya tak bisa kutebak.
“Maaf, Mulan. Aku nggak sengaja menemukan bukumu di jalan. Kupikir, lebih baik kukembalikan padamu. Maaf juga, Mulan. Aku nggak sengaja membaca beberapa halaman yang kamu tulis. Aku tahu aku salah, aku cuma ingin tahu kamu lebih dalam. Tapi ternyata….”
“Ya, kamu berhak tahu, Pras. Aku memang bukan wanita. Aku sama sepertimu. Tapi perasaanku padamu terbentuk secara alami. Aku juga tak mengerti, apakah perasaan ini terpengaruh dengan kondisiku yang tak seharusnya kuceritakan padamu?”
“Maksud Mulan apa?”
Aku membisikkan sesuatu kepada Pras. Jujur, aku tak ingin orang-orang yang ada di pub tahu akan kondisiku. Bagiku, biarlah mereka mengenalku sebagai wanita.
“Mulan, kalau memang begitu… bukalah kotak ini!”
Aku membukanya pelan-pelan. Tak kusangka, bukan hanya buku harianku yang ada disana melainkan ada juga sebuah gaun indah berwarna silver. Apa ini artinya waktuku menjadi laki-laki sudah berakhir?
“Pras, ini….”
“Iya, itu gaun buatmu. Aku tahu banyak tentang perasaan yang kamu alami. Itu wajar saja. Apa aku boleh meminta satu hal padamu? Tak perlu jawab sekarang, aku cuma perlu jawaban yang jujur dari hatimu.”
“Apa itu, Pras?”
“Menjadi TG* memang nggak mudah, Mulan. Tapi aku yakin kalau kamu bisa. Terlebih… jika kamu memang mau, aku bersedia membayar biaya operasi GK*mu. Seperti yang kamu bisikkan padaku tadi. Bagaimana?”
“Pras, aku tak tahu harus bilang apa. Aku senang malam ini. Terima kasih ya karena kamu membalas perasaanku.”
“Tentu saja, Mulan. Lelaki mana yang tidak tergoda dengan kecantikanmu. Meski nama aslinya mungkin bukan Mulan.”
“Melainkan Mufti Lando.”
Kami tertawa. Lebih tepatnya menertawakan kujujuran yang telah terungkap. Kejujuran yang berbuah manis. Dan memang benar, kejujuran pasti akan berakhir indah walau awalnya terasa sakit.
#IWriteToInspire for #14DaysofInspiration ~ Honesty (Kejujuran)
*TG >> Trandsgender
*GK >> Ganti Kelamin

Sabtu, 29 Juni 2013

Aku Terlalu Baik Untuknya




Sejujurnya aku tak ingin mengingat-ingat lagi, apalagi sampai mengenang sosok itu. Sakit rasanya, perih, dan aku bisa menangis semalam karenanya. Tapi entah kenapa, malam ini aku mengingatnya saat aku membuka album fotoku. Dan juga segelintir barang kenangan tentang aku dan dia.
Tak banyak barang yang ada di dalam kardus cinta lamaku. Yang banyak jelas saja kenangan bersamanya. Waktu-waktu yang berlalu bagai dihempas angin. Saat bisa berbagi cerita, canda tawa, juga derai airmata yang tak terhitung lagi. Tapi itu dulu, jauh sebelum aku merasa kehilangan dirinya.
***
Bade, malam ini temenin Si nonton yuk. Sekalian ngerayain ulang tahun Si.
Boleh, jam berapa?
Jam tujuh aja, Bade jemput ya. Abis itu kita fotobox bareng.”
“Oke.”
Beberapa lembar foto bersamanya tercetak nyata. Juga tiket nonton ‘Laskar Pelangi’ yang masih kusimpan, dan tiket-tiket lainnya di kemudian hari.
***
“Bade, hari ini temenin belajar di rumah ya. Abis itu kita ke Agro Khatulistiwa.”
“Siap, bentar lagi Bade ke rumah Si.”
Entah berapa banyak waktu yang kuhabiskan untuk belajar bersamanya. Semester 3, 4, 5, 6, 7, juga 8.
***
“Bade, lagi sibuk nggak? Kalo nggak, temenin Si karaoke yuk.”
“Nggak kok, untuk Si … Bade nggak pernah sibuk, tenang aja.”
Akhirnya, kami bernyanyi berdua di Mall. Suaranya memang terdengar merdu, apalagi jika dia bermain gitar di rumahku. Tapi sayang beribu sayang, gitar itu sudah tak ada lagi. Sudah dijual adikku.
***
“Bade, bosen nih di rumah. Jjs yuk!”
“Boleh, tapi Si yang jemput ya. Bade tunggu di depan Asrama.”
Dan jadilah, aku pergi menjemput dia. Jaraknya cukup jauh, tapi demi rasa ini … entah mengapa, aku rela menghampirinya. Aku begitu menikmati momen-momen kebersamaan itu. Dan anehnya lagi, aku berharap bahwa dia juga merasakan yang sama denganku.
***
“Bade, boleh minta tanda tangannya nggak disini?” pintaku seraya menyodorkan buku harian dan pena kesayanganku.
“Boleh, di tangan Si juga boleh kok. Dimana aja boleh, hehehe ….”
Lantas, buku harianku tertera tanda tangan dan namanya. Buku harian yang selalu berkisah tentangnya, juga bait-bait puisi cinta untuknya. Kadang-kadang, aku tak malu mengirim bait-bait puisi itu kepadanya. Kadang pula, dia membalas canda untuk menjadikan bait itu sebuah lagu. Tapi tak kunjung jadi hingga sekarang.
***
Bade, itu panggilan kesayangannya. Ia dekat denganku, dekat juga dengan Mama. Tapi satu kejadian tak bisa kuterima, saat dia menyatakan dengan jelas bahwa 'aku terlalu baik untuknya'. Aku memang baik padanya karena aku sayang, dan mungkin rasa sayangku lebih dari sekedar sahabat. Itu jelas, terlihat dari berbagai permintaanku padanya. Minta temenin nonton bioskop, temenin karaoke, temenin jalan-jalan, dan lainnya.
Tapi itu dulu, jauh sebelum aku merasa kehilangan dirinya. Saat ia selesai wisuda, ia menghilang tanpa kabar. Ia pindah merantau ke kota orang. Tepat setahun berlalu, aku bertemu dengannya lagi. Dan ia masih mengatakan hal yang sama bahwa 'aku terlalu baik untuknya'.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...