Kamis, 25 Maret 2010

Surat Untuk Yang Tersakiti


Teruntuk seseorang yang pernah ku sakiti.
Teruntuk seseorang yang kecewa dengan tingkahku selama ini.
Untuk dia yang terus berdiam diri, untuk seseorang yang pernah mengisi namanya dihatiku ini.

Assalamu’alaikum wahai engkau yang pernah tersakiti.

Lama kita tidak saling mengirim kabar, teramat lama juga kita membangun luka antara sesama kita.

Maafkanlah aku yang terus kecewa, maafkan aku yang begitu posesif ingin melindungimu namun aku tak pernah mengerti cara yang dewasa yang kau anggap baik untuk melindungimu. Maafkanlah aku yang tak pernah dewasa dalam mengambil sikap.

Teramat lama aku ingin segera mengakhiri perang dingin ini. Teramat lama aku ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi, tanpa harus ada makian antara aku dan kamu. Teramat lama dan telah teramat sesak aku menunggu waktu yang tepat untuk mengucapkan kata maaf ini. Maka maafkanlah aku. Apakah engkau harus terus memegang kata: tidaklah mudah untuk memaafkan.

Bukankah Tuhan saja Maha Pemaaf, namun mengapa aku atau engkau tidak mampu memaafkan?
Sudah menjadi tuhan-tuhan kecilkah kita?
Atau memang engkau telah memaafkan segala kesalahanku?
Namun mengapa telah terputus tali silaturahmi diantara kita?

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah begitu mudah memutuskan sesuatu yang berat, janganlah begitu mudah membenci sesuatu. Hal yang engkau anggap ringan itu sebenarnya adalah sesuatu yang berat di mata Allah. “Dan janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu berlaku tidak adil.”

Masih ingatkah engkau suatu kisah, dimana engkau bercerita: “Aku pernah memiliki seekor domba, dulu domba itu begitu kusayang. Kemana aku pergi domba itu mengikutiku, dan kemana domba itu beranjak akupun mengikutinya. Namun suatu hari aku amat begitu buruk dan membencinya, domba itu mulai sering mengomel.

Dia mengoceh betapa aku harus lebih sering mandi, dia terus berkelakar bahwa tidak baik jika aku tidak mandi. Dia mulai sering mengkritikku. Aku marah. Lalu ku tinggalkan domba itu sendiri. Tidak peduli dia mau mati atau terisak nangis sendiri. Bahkan domba itu mulai membentak bahwa selama ini aku tidak ikhlas menemaninya, padahal aku ikhlas.”

Dan aku pun tersenyum mendengar kisahmu. Aku pun berkata, “Mengapa tidak kau temani lagi dombamu yang sedang merajuk itu?”

Kau pun ketus menjawab, “TIDAK! Dia bukan dombaku!”

Tahukah engkau wahai seseorang yang pernah ku sakiti, aku pun kini merasakan apa yang dialami oleh domba itu. Terlalu sakitkah dirimu sehingga engkau begitu membenciku dan menjadikan aku laksana domba dalam ceritamu?

Jangan seperti itu. Sungguh jangan seperti itu. Janganlah engkau seperti Yunus ketika meninggalkan kaumnya karena kemarahannya akibat kezaliman kaumnya dan Allah pun memperingatkan Yunus, “Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.”

Dulu kita pernah berteman baik sekali, hingga aku pun mengerti kapan kau akan sakit dalam tiap-tiap bulanmu. Dulu engkau begitu pengasih, hingga tahu betapa aku menginginkan sesuatu dan engkaupun memberikannya. Dulu, kita berdua begitu baik.
Namun mengapa setelah datang kebaikan, timbul keburukan?

Sedari awal, aku telah memaafkanmu. Bahkan aku merasa, kesalahanmu di mataku adalah akibat salahku. Aku yang memulai menanam angin, dan aku melihat badai di antara kita. Badai dingin yang amat begitu menyesakkan. Paling tidak untukku.

Jangan takut jika engkau khawatir perasaan cinta yang dulu melekat akan kembali timbul. Aku bukanlah seseorang seperti yang dulu lagi. Aku telah mengubah sudut pandangku tentang seseorang yang layak aku cintai. Aku sekarang sedang mencari pangeran.

Ingin aku bercerita kepadamu, kandidat-kandidat pangeranku.

Mengapa setelah habis cinta timbul beribu kebencian. Mengapa tidak mencoba membuka hati untuk seteguk rasa maaf. Jujur, bukan dirimu saja yang tersakiti, namun aku juga. Namun aku mencoba membuang semua sakit yang begitu menyobek hati. Andai engkau tahu wahai engkau yang pernah kusakiti.

Pernahkah engkau menangis karenaku seperti aku menangis karenamu?

Seperti aku terisak dihadapanmu. Pernahkah?

Mungkin dirimu telah menemukan seseorang yang begitu engkau sayangi. Seseorang yang mampu membangkitkan hidupmu lagi, tetapi aku? Pernahkah engkau berpikir betapa hal yang engkau lakukan terhadapku begitu berdampak buruk untukku.

Sudah menjadi tuhan kecilkah dirimu? Bahkan Tuhan saja memaafkan.

Tahukah wahai engkau yang pernah tersakiti, betapa aku meneteskan air mata saat menulis ini. Betapa aku seolah pendosa laksana iblis yang terkutuk. Apakah engkau mengerti apa yang kurasakan? Mengertikah dirimu?

Tak pernah ada manusia yang luput dari suatu kekhilafan. Tidak aku, tidak juga kamu wahai engkau yang pernah tersakiti. Maka, bukalah pintu maafmu itu.

Untuk surat ini, untuk kekhilafanku yang lampau, untuk kenangan yang membuatmu sakit, untuk segala sesuatu tentang kita, aku minta maaf.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
c0past fr0m aRtikeL isLami..

kaTa2nya begitU menyentuH..
maaF utK siaPapuN yg peRnah tersakiti oLehku..


Memory on 250310

Kamis, 18 Februari 2010

Kita Harus Belajar

Kita harus belajar
bahwa kita tidak dapat memaksa orang lain bersikap baik pada kita
tapi kita bisa memilih bersikap baik pada mereka


Kita harus belajar
bahwa orang yang berbuat jahat pada kita
adalah orang yang bisa memperkuat sisi terbaik diri kita

Kita harus belajar
bahwa sebaik-baiknya orang lain
mereka pasti pernah melukai perasaan kita
dan untuk itu kita harus memaafkan mereka

Kita harus belajar
bahwa mengampuni diri sendiri dan orang lain
tidak saja membebaskan kita dari rasa bersalah
tetapi juga memperbesar hati dan jiwa kita

Kita harus belajar
bahwa lingkungan dapat merusak diri kita
tetapi kitalah yang bertanggung jawab penuh atas semua tindakan kita

Kita harus belajar
bahwa tidaklah penting apa yang kita miliki
tetapi yang penting adalah siapakah kita sebenarnya
dan untuk apa kita hidup di dunia ini

Kita harus belajar
bahwa tak penting apa yang kita alami
yang penting adalah bagaimana kita bersikap
dan bagaimana kita memilih respons

Kita harus belajar
bahwa semua jenis penderitaan dan kekecewaan
adalah rahmat yang mengenakan topeng
yang bertujuan untuk membangun diri kita

kata" ini dari salah satu buku...
_Dari Pasir Menjadi Mutiara_

Memory on 180210

Selasa, 16 Februari 2010

About Natuna Island and You [3]

Tanggal 11 feb berangkat ke tempat Nisah di Sedanau, karena emang udah direncanain...3 hari tempat Ingga, 3 hari tempat Nisah. Sepi di tempat Nisah ni...gak kayak di tempat Ingga coz yg cowok asalnya pada banyak yg sama dengan Ingga, gpp deh, happy happy aja...^_^...pergi ke tempat Nisah pakai kapal ferry coz nyebrang pulau-pulau kecil, ceritanya Natuna itu terdiri dari banyak pulau kecil, ckckck...







Terkejut saat pertama kali melihat kucing di rumah keluarga Nisah...gede banget kucingnya ya...senaaang megangnya...hahaha ;D mungkin karna makannya ikan mulu kali ya?!


Shie dengan keponakannya Nisah...Dika


Tanggal 12-13 feb baru berjalan ke Masjid Raya dan Pantai Maghos, berdua aja dengan Nisah...mulai kangen dengan si H, hehehe...;)





















Tanggal 14-15 feb...pulang ke Pontianak, horeee...di kapal lagi! Hp sehari-harian dipegang dengan dy, truuus...dy juga deket banget ke Shie, ada apa ya?! Bingung deh tapi senang...dy ada genggam tanganku waktu baring di kapal. Hm...^_^...sok sok perhatian gitu deh, hehehe...





Yg ini manis ya...hahaha ;D

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...