Senin, 08 Juli 2013

[BeraniCerita #19] Love Alert


pict from beranicerita.com
Hujan telah berhenti di persimpangan jalan. Sosok pria itu mulai berjalan melewati zebra cross dengan pelan. Ia selalu begitu, tak pernah mau melewati zebra cross yang ramai oleh lalu lalang orang. Hal itu jelas tergambar dari balik kaca kedai kopiku, tak jauh dari arah zebra cross yang ada di depan.
Pernah suatu hari, ia bolak balik di salah satu ruas jalan di seberang sana. Entah apa yang dilakukannya, aku tak mengerti. Aku cuma mengamatinya lamat-lamat. Berharap ia segera sampai di seberang sini, dan mengunjungiku lagi di kedai kopi ini.
Aku suka mengamatinya, ia terlihat berbeda dari yang lain. Saat ia berkunjung dan memesan secangkir kopi, ia tertunduk malu-malu mengatakannya, dan tak pernah sekali pun ingin menatap ke dalam bola mataku ini. Dan, aku bisa menduga dengan pasti bahwa ia adalah sosok pria yang sopan.
Aku juga suka mengganggunya, ia terlihat menggemaskan ketika itu. Terlebih saat ia menjadi kikuk dan salah tingkah. Tapi satu hal yang paling aku suka darinya, ia jenius dan sangat menyukai matematika. Jika ia duduk di kedai kopiku, ia selalu serius menghitung apa saja yang ada di bukunya. Seperti malam ini, saat ia telah duduk di bangku favoritnya dan menunggu secangkir kopi pesanannya.
Mataku menatap curiga saat ada seorang wanita paruh baya menghampirinya. Aku mengambil langkah inisiatif untuk mengantar kopi pesanannya. Setelah sampai di bangku favoritnya, aku terkejut kala ia menjauh dari diriku. Ia seperti mengamuk, menjatuhkan apa saja yang ada di mejanya, dan berkicau sesuatu yang tak jelas. Semakin aku mendekatinya, ia semakin berlari. Dan kini, ia berada di tengah-tengah zebra cross.
Wanita paruh baya yang tadi menemaninya juga ada di antara kami, mencoba menenangkannya seraya berkata padaku, “maaf nona, ia tak suka warna syal itu. Bisakah kau menjauh darinya sebentar?”
Apa yang salah dari warna syalku? Warna kuning ini membuatku terlihat ceria. Batinku.
Tanpa pikir panjang, aku berbalik badan tak mempedulikan amukan pria itu. Namun waktu seakan berhenti ketika aku melewati bangku favoritnya. Aku mendapati sebuah kartu biru di lantai yang mungkin terjatuh dari bukunya. Kubaca sekilas tulisan yang tertera di kartu itu, autism alert.
..::.. words: 340 ..::..


Inspirasi: Film My Name Is Khan

8 komentar:

  1. Jadi pengen nonton My Name is Khan, hehe.. Asperger's syndrome. Keren mbak Susi! Btw, menang cerita horor kota plot point ya? Selamat! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bagus filmya, tontonlah..
      Iya, nggak nyangka bisa menang disitu. Terima kasih, Tami. :)

      Hapus
  2. Balasan
    1. Tapi nggak sekeren ceritanya mbak Nina. :D

      Hapus
  3. semacam punya penyakit, gitu ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, cowok yang ditaksirnya itu emang beda. Beda karena terkena Asperger's syndrome.

      Hapus
  4. Cerita ini mengingatkan saya akan film My Name Is Khan.

    Bener nggak ya? Penyakitnya sama kaya gitu?

    Bagus ceritanya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Mbak. Memang terinspirasi dari film itu. Terima kasih. :)

      Hapus

No comment - No cry
Meskipun komenmu sangat kuhargai disini :')

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...