Rabu, 31 Juli 2013

Terlambat Sudah

pict from here
Telah kutelusuri puing-puing kenangan kita
Entah harus kunamakan apa
Rasa itu terkubur sekian lama
Lantunannya pun tak lagi berirama
Antara ada dan tiada
Manakala sayup-sayup kau mengeja
Bait rasa yang sempat tertinggal di separuh jiwa
Aku takkan mampu menjawab, karena semua percuma
Terlambat sudah

Puisi akrostik merupakan puisi yang huruf-huruf awal atau akhir pada tiap larik akan membentuk sebuah kata atau kalimat lain jika dibaca secara vertikal. Dalam puisi ini, kata yang terbentuk adalah kata yang dijadikan tema.

#ngabubuwrite ~ Terlambat

Selasa, 30 Juli 2013

Lagi-lagi Palsu

pict from here
Lagi-lagi kau berwajah palsu
Menebar senyum dari lengkung palsu
Membisik lirih dari rintih-rintih palsu

Aku muak memandang seribu wajahmu
Seperti terjerat dalam cermin-cermin itu
Seharusnya kau simpan saja bersama topengmu

Lagi-lagi kau berhati palsu
Menelusupkan rasa yang nyatanya palsu
Menitipkan mimpi yang cuma mimpi palsu

Aku kecewa menatap siluet dirimu
Seperti senja merekah yang kini berlalu
Seperti seonggok sampah tanpa belasmu
Seharusnya kau saja yang jadi sampah itu

#ngabubuwrite ~ Wajah

Minggu, 28 Juli 2013

[My Book] Ramadan: Semesta Merindu

Alhamdulillah, setelah sekian lama menunggu... akhirnya terbit juga buku kelimaku. Buku Ramadan: Semesta Merindu ini merupakan buku kumpulan puisi dengan tema Merindu Ramadan. Ini juga hasil karya rame-rame, dan lagi-lagi aku terpilih sebagai kontributor. It's ok lah daripada nggak terpilih sama sekali. Yang penting tetap bersyukur dalam hati! Yeay!

Cover depan belakang belum ditampilkan oleh Penerbit, cuma cover sampul depan aja yang ada. Sebenarnya aku kurang suka dengan covernya tapi ya sudahlah... itu kan haknya Penerbit. Ini dia, taraaa...


Judul: RAMADAN: Semesta Merindu
Penulis: Yuli Arista, Manusia Perahu, Rusdi El Umar, Wahyudi Abdurrahman Zaenal, Muhammad Saufi Ginting, Dewi Anggun Pratiwi, Jay Wijayanti, Eka Safitri, Rizka Desi Prasetia, N. Kirana, Prast Respati Zenar, Susi Retno Juwita, dkk. (
tambahin nama sendiri, hehehe :)) (http://redaksi-metakata.blogspot.com/2013/07/pengumuman-lmp-merindu-ramadan_5.html)
Penyunting: @Avet89
Pewajah Sampul: de A creative
Penata Letak Isi: de A creative
ISBN 978-602-17600-8-6

HARGA
- Asli: Rp 37.500
- Promo Khusus Pembeli di Luar Kontributor: Rp 32.500 (berlaku hingga tanggal 10 Agustus 2013)
- Promo Khusus Kontributor: Rp 30.000 (berlaku hingga tanggal 31 Juli 2013)
**Kontributor yang memesan buku di atas tanggal 31 Agustus 2013 akan dikenakan harga Rp 33.500

PEMESANAN
SMS ke "081907820606" dengan format "RSM-Nama (kontributor/non kontributor)-Alamat (lengkap dengan kode pos dan alamat email--khusus kontributor)-Jumlah Pemesanan

***Khusus kontributor yang memesan dari tanggal 27 s.d. 31 Juli 2013, batas akhir transfer pembayaran tanggal 01 Agustus 2013.

****Mulai cetak tanggal 02 Agustus 2013

Kutunggu Kejutanmu

pict from here
Disini aku berteman dengan jangkrik
Desau angin yang menusuk kalbu
Detak jantung yang kian memburu
Di antara hati yang kasak kusuk

Mana kejutan yang kau janjikan?
Malam kemarin tak tersampaikan
Mengapa tak kau utarakan?
Mungkinkah ada satu keraguan

Aku tak tahu dan tak ingin 'tuk tahu
Andai rasa cinta memang 'tuk kita
Alangkah bahagia terus bersamamu
Angan pun terganti secara nyata

Sayang, mana kejutan itu?
Bolehkah aku memintanya lagi?
Bicarakan rasa cinta di hati kita
Berdua serasi untuk selamanya

Sayang, disini aku menunggu...
Bingkisan kejutan yang istimewa
Bawakan segera untukku...
Bersatu kita merangkai bahagia

Memory on 301108 (dengan pengubahan)

#ngabubuwrite ~ Kejutan

Riangku

pict from here
riang...
lima huruf yang takkan kau temukan dariku
lima abjad yang cuma kau rasakan semu

riang...
huruf itu takkan bermakna karena telah hilang
abjad itu memang semu karena cuma palsu

dan aku...
inilah aku apa adanya tanpa keriangan hati
riangku cuma aku yang bisa merasakannya

#ngabubuwrite ~ Riang

Kamis, 25 Juli 2013

Mungkin Benar

pict from here
aku menyerah
bukan berarti kalah

aku menyesal
bukan berarti gagal

aku mengadu
karena aku tahu sesuatu

di balik menyerahku
dan juga menyesalku
adalah batasan dari-Mu

sementara kalahku
dan juga gagalku
adalah pengingat akan-Mu

akan hari-hari yang telah berlalu
akan perjalanan hidup yang berliku
dan mungkin benar, ini cobaan dari-Mu

#ngabubuwrite ~ Cobaan

Rabu, 24 Juli 2013

Kau

pict from here
Kuingat kau kala aku bangun dan tertidur lelap
Kuingat kau kala aku pergi dan pulang kerja
Kuingat kau kala aku lapar dan dahaga
Kuingat kau kala musim selalu berganti
Kuingat kau, ya... kuingat kau!
Kau yang tak pernah lekang oleh apapun
Kau yang selalu melaju tanpa kenal apapun
Kau yang mengatur pola-pola kehidupan
Kau yang melebihi musim di dunia ini
Kau, ya... itu kau!
Waktu

#ngabubuwrite ~ Waktu

Selasa, 23 Juli 2013

Berdamai Dengan Hati

pict from here
aku butuh bahumu
bahu yang sedia menopang sisi kepalaku
bahu yang seperti menghapus resahku
bahu yang selalu ingin kupinjam darimu

aku butuh pelukmu
peluk yang terasa hangat bila kau disisiku
peluk yang bahagiakan resah di jiwaku
peluk yang selalu kurindukan darimu

aku butuh senyummu
senyum yang manis seperti gula-gula itu
senyum yang hadirkan lengkung di bibirku
senyum yang selalu cairkan gelisahku

aku butuh ketiga hal itu
ya, semuanya selalu berawal dari dirimu
dirimu yang paling mengerti akanku
akan jiwa-jiwa sepi pada hari yang baru

aku butuh ketiga hal itu
ya, karena kurasakan damai di dekatmu
walau kutahu kau bukan siapa-siapaku
tak apa, aku bisa berdamai dengan hatiku

#ngabubuwrite ~ Damai

Senin, 22 Juli 2013

Jatuh Bangun

pict from here
jatuh bangun aku
mencoba jaga perasaan ini
perasaanku yang bukan perasaanmu

jatuh bangun aku
mencoba tutup luka hati ini
luka yang selalu menganga karenamu

cukup sudah bagiku
aku tak ingin jatuh bangun lagi
kini giliranku membuatmu jatuh di depanku

jatuh lalu mati membeku
walau aku bukan psikopat dalam benci
walau aku masih mengharap pada waktu

ya, andai saja kau tahu
jatuh bangun itu memakan hati
jatuh bangun itu tak semudah perkataanmu

#ngabubuwrite ~ Jatuh

Minggu, 21 Juli 2013

Lembar-lembar Puisiku

pict from here
lembar-lembar puisiku terlihat usang dan berdebu
tak sanggup untuk kusentuh pada entah ke berapa
tak sanggup pula untuk kubuka karena tak kuasaku
lembar-lembar puisiku biarkan saja tetap ada disana

ya, lembar-lembar puisiku...
semuanya bercerita tentangmu
tentang kita yang tak pernah satu
pun tentang waktu yang masih meragu

ya, lembar-lembar puisiku...
semuanya kisah tentang cintaku
cinta yang terpendam dalam hatiku
untuk satu nama peluruh sendu imajiku

ya, lembar-lembar puisiku...
semuanya mimpi yang cuma semu
takkan pernah terjamah oleh sang waktu
pun takkan terusik lagi karena cinta berlalu

ya, lembar-lembar puisiku...
semuanya tinggal kenangan pilu
tak perlu ditelusuri untuk mencipta sendu
karena kini aku telah menjadi kita yang baru

#ngabubuwrite ~ Kenangan

Fatin With Rabbani






Menurut Tabloid Bintang, Fatin Shidqia Lubis mendapat tawaran menggiurkan untuk menjadi brand ambassador perusahaan kerudung Rabbani. Dan Rabbani sendiri siap memfasilitasi Fatin untuk membuat kerudung dengan merek memakai inisial namanya, FSL (Fatin Shidqia Lubis).

Soal warna dan hal-hal lainnya, masih dalam tahap pembicaraan lebih lanjut dengan Fatin dan label Sony Music yang menaungi Fatin. Warna-warnanya tentu saja disesuaikan dengan Fatin sendiri. Sementara Fatin mengungkapkan, model hijabnya nanti harus menutup aurat, tidak memperlihatkan bentuk tubuh, serta harus dibuat secara kreatif.

Ada yang tahu nggak sih apa itu Rabbani?

Sekilas info aja ya ... dikutip dari website Rabbani, "Rabbani merupakan perusahaan garment yang bergerak dalam bidang retail busana muslim dengan tagline Professor Kerudung Indonesia. Rabbani merupakan salah satu perusahaan kerudung instan pertama dan terbesar di Indonesia dengan mengeluarkan produk andalan berupa kerudung instan dan produk lain yang juga telah dikembangkan yaitu busana muslim diantaranya kemko, tunik, kastun, serta perlengkapan lain seperti ciput/inner kerudung dan aksesoris."

Nah, udah pada tahu kah apa itu Rabbani?! Aku juga punya beberapa busana muslim dari Rabbani, warnanya cerah-cerah dan modelnya juga bagus. Melihat Fatin menjadi brand ambassador Rabbani, juga busana yang dipakainya ... jadi pengen deh! Hehehe... apalagi warna merah muda alias pink, suka banget! Kalau model-model lainnya, sobat bisa lihat di websitenya langsung. Paling banyak sih model kerudung. But, it's ok ('-'*)

Sabtu, 20 Juli 2013

Fatin Shidqia Lubis [Konser di Makassar]




Fatin Shidqia Lubis [IMA 2013] [Konser Super X]




Doa Seorang Penulis

Oleh Ernita Dietjeria di Komunitas Penulis-Bacaan-Anak
(tulisan ini diterjemahkan secara bebas dari "A Manual for Fiction Writers" oleh Lawrence Block)

pict from here
Tuhan, aku harap kau punya waktu beberapa menit untukku. Aku punya beberapa permohonan padamu.
 
Pada dasarnya, Tuhan, aku mohon bantuanmu agar aku dapat menjadi seorang penulis yang baik. Sebagai awal, bantu aku agar tidak terus-menerus membandingkan diriku dengan penulis-penulis lain. Aku bisa hancur kalau terus-menerus melakukan hal seperti ini: Aku adalah penulis yang lebih baik dari si Alan, lalu kenapa aku tak bisa sukses seperti dia? Kenapa tulisan-tulisanku tak bisa diangkat ke layar kaca? Kenapa si Barry yang mendapat perhatian lebih dari penerbit, dan bukan aku? Apa sih hebatnya si Carol sehingga bisa-bisanya dia mendapat ulasan sampai dua halaman di majalah New Yorker? Setiap kali aku memutar tv, yang muncul malah wajah si Dan di setiap talk show. Apa sih yang bikin dia spesial? Aku juga menulis cerita yang sama seperti mereka, tapi kenapa sih tulisanku bolak-balik ditolak penerbit?
 
Di sisi lain, aku takkan mungkin menjadi penulis seperti Frank yang bisa memakai pengalaman pribadinya dalam tulisan-tulisannya dengan begitu jujur. Dan si Gloria, dia punya ketajaman mata seorang seniman. Kalimat-kalimatnya begitu deskriptif dan nyata sehingga aku sadar akan keterbatasanku. Si Howard juga, dia sangat pro, tulisan yang kurampungkan sebulan penuh, cuma diselesaikannya dalam sehari dan dengan santai pula. Tuhan, bantu aku untuk tidak memikirkan kompetisi dengan penulis lain. Kesuksesan mereka tidak ada hubungannya dengan diriku. Kami punya cerita masing-masing. Kami punya gaya penulisan masing-masing. Kami memiliki karir masing-masing. Semakin sering aku membanding-bandingkan diriku dengan penulis lain, semakin sedikit energi yang bisa kupakai untuk menghasilkan karya tulis yang baik. Akhirnya aku cuma mengeluh akan kemampuan dan tulisan-tulisanku, dan hal ini hanya akan menghancurkan diriku sendiri.

Flannery O’Conner bilang bahwa setiap orang yang berhasil melewati masa kecilnya memiliki bahan untuk menulis sepanjang hidupnya. Aku percaya akan hal ini, Tuhan. Aku percaya bahwa setiap insan yang memiliki hasrat menulis fiksi, di dalam dirinya masing-masing tertanam kisah-kisah yang tidak akan pernah habis untuk dituliskan.
 
Bantu aku, Tuhan, untuk selalu jujur setiap duduk di depan laptop-ku. Bukan…bukan maksudku aku harus menulis non-fiksi. Fiksi adalah sederet kebohongan. Tapi biarlah fiksi-ku memiliki kebenarannya sendiri.
 
Saat karakter tokoh dalam tulisanku berbicara, bantu aku untuk mendengarnya dan menuliskan apa yang kudengar itu. Biarkan aku menggambarkannya, bukan dengan kalimat yang kukutip dari buku-buku lain, tapi dari apa yang ada di benakku. Tolong Tuhan, jangan biarkan aku menyepelekan pembacaku. Terkadang, hal ini justu menjadi godaan bagiku. Jika aku tak bisa menulis novel remaja tanpa menggurui, lebih baik aku tak menulis novel jenis ini. Jika aku anggap kisah gothik, misteri, dan koboi adalah sampah dan pembacanya adalah idiot, maka aku tak akan menghasilkan suatu tulisan yang baik dan mendapat kepuasan dari tulisan seperti ini. Biarlah aku menulis sesuatu yang kuhargai, dan biarlah aku menghargai orang-orang yang nantinya akan menjadi pembacaku.

Tuhan, biarlah sebuah kamus selalu berada di dekat-dekatku. Saat aku tidak yakin akan penulisan sebuah kata, aku akan membuka kamus. Begitu pun jika aku tak yakin akan arti sebuah kata, bantu aku agar tidak malas membuka kamus. Memeriksa penulisan dan definisi sebuah kata membutuhkan kerendahan hati, Tuhan. Kerendahan hati membuatku terjaga. Saat kerendahan hatiku dalam kondisi yang baik, setiap kesuksesan dan kegagalan yang datang akan lebih gampang kuterima. Aku dapat menyadari bahwa tulisanku tak akan pernah sempurna, dan kesempurnaan bukanlah tujuan utamaku. Yang bisa kulakukan adalah menulis sebaik mungkin.
 
Aku bisa begitu keras terhadap diriku sendiri, Tuhan. Jika aku menghasilkan tulisan 5 halaman setiap hari, lalu aku berkata pada diriku bahwa aku bisa menambahkannya hingga mencapi 6, 8, atau 10 halaman. Jika aku menulis suatu peristiwa tanpa mencari elemen utamanya, aku menuduh diriku sebagai orang yang ceroboh; jika aku melakukan riset, aku menyalahkan diriku telah membuang waktu yang bisa kupakai untuk merampungkan naskahku. Jika aku menulis ulang, aku menyebutnya percuma—cuma buang waktu. Jika aku tidak menulis ulang aku menyebut diriku pemalas. Penyiksaan diri semacam ini tidak produktif. Beri aku, Tuhan, keberanian untuk melalui hidupku tanpa hal-hal itu.
 
Bantu aku, Tuhan, untuk menjadi penulis yang bertumbuh. Ada banyak kesempatan untuk mencapai hal ini, untuk memperoleh keahlian dan pengetahuan dengan berlatih dan membuka mataku lebar-lebar. Setiap buku yang kubaca akan memberikan sebuah pelajaran jika aku mau menerimanya dengan lapang dada. Jika aku membaca tulisan yang lebih baik dari karyaku, biarlah aku dapat belajar darinya. Jika aku membaca karya tulis yang begitu buruk, baiklah aku belajar dari kekurangannya. Berikan aku keberanian untuk mengambil resiko.

Ada satu titik di masa awal karir kepenulisanku, dimana aku menghasilkan tulisan tak bermutu, tulisan yang tak menantangku, tulisan yang tak lagi dapat kuhargai, tulisan yang tak lagi dapat membuatku bertumbuh. Aku melakukannya karena rasa takut. Aku takut mengambil resiko, baik secara ekonomi dan artistik, aku takut menghasilkan tulisan yang tidak akan diterbitkan. Aku hanya dapat bertumbuh jika aku rela mengembangkan diriku, mengambil resiko. Terkadang aku gagal, tentu saja, tapi bantu aku untuk selalu ingat bahwa aku selalu dapat belajar dari kegagalan itu, yang akan memberikan keuntungan bagiku dalam jangka panjang. Dan jika aku mengambil resiko dan ternyata gagal lagi, biarlah aku tetap ingat agar pada akhirnya memoriku dapat meringankan rasa sakit akan kegagalan itu.
 
Bantu aku untuk membuka diri pada pengalaman, Tuhan. Ada saatnya Tuhan, kala sebutir pil hijau di pagi hari bisa meningkatkan energi dan semangat menulisku. Tapi kemudian aku sadar bahwa aku hanya meminjam energiku untuk esok hari, sehingga tengaku terkuras habis. Ada kalanya juga, saat pil-pil dan minuman berenergi itu menyempitkan pandanganku seperti seekor kuda yang ditutup matanya. Aku pikir aku membutuhkan hal itu untuk menulis, Tuhan, tapi kemudian aku sadar bahwa aku dapat menulis lebih baik tanpa bantuan benda-benda itu.
 
Beritau aku juga, kapan tanggung jawabku sebagai penulis berawal dan berakhir. Bantu aku untuk berkonsentrasi pada segala hal dalam karirku yang dapat kukendalikan dan melepaskan hal-hal yang berada di luar kendaliku. Setelah aku mengirimkan naskahku pada penerbit, biarlah aku melupakannya hingga naskah itu sampai pada tujuannya. Mampukan aku untuk mengambil langkah sepantasnya, Tuhan, tanpa harus menghabiskan energiku untuk mencemaskan nasib naskahku. Tugas utamaku adalah menulis. Tugas keduaku adalah menawarkan tulisanku. Apa yang terjadi setelah itu adalah urusan orang lain. Jangan biarkan aku lupa, Tuhan, bahwa penerimaan dan penolakan bukanlah segalanya.

Imbalan utama dari setiap kerja seni adalah pekerjaan itu sendiri. Sukses ada dalam setiap proses, bukan dalam hasilnya. Jika aku menulis dengan baik, aku adalah seorang yang sukses. Kemakmuran dan ketenaran mungkin saja menyenangkan tapi bukan menjadi hal utama. Biarkan aku merasakan penolakan sebagai sebuah proses untuk mendapatkan pengakuan. Biarkan aku menerima kebuntuan sebagai sebuah proses kreatif. Pada akhirnya, Tuhan, bantu aku untuk dapat menerima hal-hal di luar kendaliku. Dan bantu aku untuk senantiasa mengucap syukur, Tuhan, bahwa aku adalah seorang penulis, bahwa aku melakukan pekerjaan yang begitu kucintai, dan aku tak membutuhkan ijin siapa pun untuk melakukannya. Terima kasih untuk semuanya. Dan terima kasih telah mendengarkanku.

Jumat, 19 Juli 2013

Waktu Dulu

pict from here
kuhitung waktu
dari detik ke menit
dari menit ke jam
dari jam ke hari
dari hari ke minggu
dari minggu ke bulan
dari bulan ke tahun

dan kini, waktuku seakan berhenti
lepas seperti dedaun yang menguning
tapi aku, takkan pernah berhenti
menghitung waktu untuk mengenang
bukan mengenangmu yang dulu di hati
tapi mengenang semangat saat lajang

ya, semangat itu yang kubutuhkan
baik untuk hari kemarin, saat ini, dan nanti
ya, semangat itu yang kurindukan
untuk jiwa-jiwa yang didera rasa sepi
ya, semangat itu yang kuinginkan
agar hidupku bertahan seribu tahun lagi
mengenang kisah-kisah perjuangan

kuhitung waktu
tak lagi dari detik ke menit
tak lagi dari menit ke jam
tak lagi dari jam ke hari
tak lagi dari hari ke minggu
tak lagi dari minggu ke bulan
tak lagi dari bulan ke tahun

karena kini, waktuku benar berhenti
gugur dari ujung-ujung sebuah ranting
tapi aku, masih takkan pernah berhenti
menghitung waktu untuk mengenang
bukan mengenang bagaimana aku mati
tapi mengenang semangat yang tak lekang

ya, semangat itu yang kuabadikan
dalam pangkuan bumi dan sanubari
ya, semangat itu yang kutanamkan
untuk jiwa-jiwa baru yang seolah mati
ya, semangat itu yang kukuburkan
agar kisah perjuanganku tetap abadi
tetap dikenang kini dan nanti

#ngabubuwrite ~ Semangat

Mimpi Nay


pict from here

Pesta ulang tahun Nay yang ketujuh baru saja berakhir. Mama menghampiri Nay dengan senang hati dan penuh doa di kamarnya.
“Sayang, kamu cantik sekali hari ini,” ucap Mama Nay sambil mengelus lembut rambut Nay.
“Makasih, Ma. Nay senang sekali, teman-teman juga bilang begitu.”
“Ohya? Mama turut senang, Sayang.”
“Tante Nina juga ikut senang ya, Nay,” kata Tante Nina dari luar kamar, yang  dibalas Nay dengan seulas senyum manisnya.
“Mama benar, baju ini pas sekali untuk pesta Nay. Warnanya pasti indah seperti pelangi,” ujar Nay berbinar-binar.
“Iya, Sayang … karena kamu memang seperti pelangi di mata Mama.”
“Mama juga seperti pelangi di mata Nay.” Nay memeluk Mamanya erat.
..::..
Pukul 20.00 WIB, Nay masih duduk di ruang tamu menanti kehadiran seseorang yang belum mengucapkan selamat padanya. Berharap mimpi-mimpinya menjadi nayata di hari ulang tahunnya.
Pintu depan perlahan terbuka, semilir angin masuk menusuk tubuh Nay, tapi Nay tak peduli. Ia berdiri dan menemui seseorang itu. Seseorang yang telah dikenalnya melalui suara tapak kakinya.
“Papa, kenapa baru pulang sekarang?” tanya Nay penuh harap pada Papanya.
“Papa sibuk, banyak kerjaan di kantor.”
“Sini Nay bawain tasnya,” usul Nay meminta simpati.
“Nggak usah, biar Papa aja.” Papa beranjak menuju kamar, Nay berusaha mencegahnya.
“Ohya, baju Nay bagus kan, Pa … seperti pelangi.”
Papa menoleh, lalu menggeleng, “pelangi? Mana mungkin, Nay.”
“Mama yang bilang, Mama yang …,” omongan Nay terputus ketika mendengar Papa mulai emosi, membanting tas kerjanya.
Mama dan Tante Nina terkejut mendengar suara ribut-ribut, lalu keluar dari kamar masing-masing, menuju ruang tamu.
“Mas, ada apa sih kok ribut-ribut?” tanya Tante Nina, adiknya Papa.
“Tante, Papa bilang baju ini warnanya bukan seperti pelangi, apa benar?”
Tante Nina tak sanggup menjawab pertanyaan Nay, begitu juga Mama. Tapi Papa tak mau tinggal diam.
“Itu benar, Nay. Meskipun semua orang bisa melihat kamu cantik dengan baju itu, tapi warnanya bukan pelangi. Seperti yang kamu lihat dengan mata hitammu.” Papa bicara dengan nada kesal.
“Pa, hentikan! Ini hari bahagia Nay.” Mama membela lalu menghambur berusaha menghampiri Nay.
Nay terisak dalam pelukan Mamanya. Meski hatinya tak henti merapalkan doa dan mimpi di hari bahagianya. Mimpinya cuma mimpi sederhana bagi seorang anak kecil seusianya. Mimpinya cuma ingin bahagia di dekat kedua orangtuanya. Tapi cuma Mama yang bisa memberikan kebahagiaan itu, mewujudkan mimpi itu. Sementara Papa, ia selalu saja bersikap acuh tak acuh.
Dalam isaknya yang entah kesekian, Nay tetap bermimpi bahwa suatu saat Papa pasti bisa menerima kehadirannya yang tak sempurna. Seperti dulu, saat Mama menceritakan betapa bahagianya Papa saat Nay dilahirkan ke dunia ini. Seperti kata Mama, “mimpilah sebanyak yang kamu mau selagi kamu masih bisa bermimpi. Mimpilah seperti hujan yang menunggu pelangi di ujung senja, kelak akan kamu temukan warnanya. Membuat mimpimu menjadi nyata.”
#IWriteToInspire for #14DaysofInspiration ~ Dream (Mimpi)

Kamis, 18 Juli 2013

Move On

pict from here

Tak usah kau hiraukan daun ataupun bunga yang berguguran
Tak usah kau cemaskan hari-hari yang silih bergantian
Tak usah kau biarkan dirimu diam dalam keraguan
Tak usah, karena kau harus move on

Tak usah kau dengarkan caci makian dan kicauan di luaran
Tak usah kau takutkan risiko yang kadang berdatangan
Tak usah kau tenggelamkan dirimu di keraguan
Tak usah, karena kau harus move on

Ya, kau harus move on
Tak boleh mengenal kata keraguan
Tak boleh pantang menyerah dan galau-galauan
Tak boleh pula berhenti berharap akan satu kepastian

Ya, kau harus move on
Tak boleh berjalan mundur di kenangan
Tak boleh mengingat-ingat kisah bersama sang mantan
Tak boleh pula berharap bahwa waktu akan mempertemukan

#ngabubuwrite ~ Keraguan

Tentang Kasih Sayang

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang tinggal berdua dengan anak perempuannya.  Suaminya entah kemana, tak pernah pulang sejak tinggal di kota besar. Pun, tak pernah memberi nafkah barang sedikitpun. Anak perempuannya memiliki kelainan sejak kecil yaitu autis. Ia tak pandai bicara apalagi bergaul dengan banyak orang. Yang dikenalnya hanyalah ibunya.

Ibu itu selalu berdoa pada Tuhan, memohon kesembuhan untuk anak perempuannya. Tak jarang, tangisan mengalir melewati kedua pipinya. Anak perempuannya yang jika melihat tangisan itu, selalu bersedia menghapus air mata ibunya. Meskipun ia tak pernah mengerti mengapa ibunya menangis tiap kali menengadahkan tangan di waktu-waktu malam.

Semakin lama, kebutuhan untuk ibu dan anak semakin tak tercukupi. Semua kerja serabutan telah dilakukan ibu itu, demi anak perempuannya. Tak ayal, tubuh ibu itu semakin kurus dan tak terawat. Sementara anak perempuannya tak bisa menggantikan ibunya dengan kondisi kelainannya, apalagi merawat ibunya sendiri. Ibu itu ingin menyerah meski rasa sayangnya tak pernah lelah.

Suatu hari, ibu itu pernah bertemu dengan seorang dokter yang ingin meneliti kasus autis di panti asuhan -yang menjadi sumber mata pencahariannya selain mencuci dan menyetrika pakaian. Ibu itu lalu menawarkan diri, berharap bahwa anak perempuannya dapat diperlakukan baik oleh dokter. Dokter tentu saja setuju karena salah satu tugas mulianya memanglah seperti yang diharapkan ibu itu.

Hari pertama, anak perempuannya tak menunjukkan reaksi apa-apa. Ia masih diam dan tak pandai bicara. Ibu itu sedikit menyesal dengan keputusannya. Tapi ia tetap berharap bahwa suatu hari anak perempuannya akan bisa menyebutnya dengan panggilan ibu. Dengan berbekal kepercayaan pada dokter, ia diam-diam selalu mengawasi perkembangan anak perempuannya.

Hari ini, sudah setahun berlalu. Anak perempuannya telah berhasil memanggilnya ibu. Ibu itu senang bukan main, ia mencium kening anak perempuannya berulang-ulang kali. Dokter pun ikut senang karena penelitiannya berjalan lancar. Kasus autis memang memerlukan perhatian khusus dan kasih sayang yang tulus. Dan, kasus autis memang tak sepenuhnya sembuh. Tapi paling tidak, ada perkembangan yang bisa membuat perasaan menjadi lega.

Baik dokter maupun ibu itu, mereka sama-sama belajar banyak dari kasus autis yang dialami anak perempuan itu. Karena anak adalah titipan sementara dari Tuhan. Karena anak adalah sosok yang terlahir dari rasa kasih sayang antar dua jiwa yang berlainan. Dan seharusnya, apapun kondisi anak yang dititipkan oleh Tuhan… orangtua harus memberikannya kasih sayang.

#IWriteToInspire for #14DaysofInspiration ~ Compassion (Kasih sayang)

Rabu, 17 Juli 2013

Melupakanmu

pict from here
Melupakanmu adalah hal tersulit bagiku
Tentu saja, karena kau selalu ada di lembar puisiku
Tereja dengan jelas dari satu kata ke kata lainnya itu
Terangkai dengan indah dari sejuta makna bertaut kelu

Melupakanmu
Ya, melupakanmu
Itu adalah hal tersulit bagiku
Tak pernah kuhitung waktu yang melaju

Melupakanmu
Ya, melupakanmu
Itu adalah hal tersulit dalam hatiku
Karena kau telah mengukir kenangan pilu

Melupakanmu
Ya, melupakanmu
Itu adalah hal tersulit setiap waktu
Tak ingin rasanya mengingat kejadian itu

Melupakanmu
Ya, melupakanmu
Itu adalah hal tersulit yang buatku pilu
Karena kau terlalu jauh untuk selalu kurindu

#ngabubuwrite ~ Melupakan

Jujur Itu Indah



Sabtu, 23 Maret 2013.
Pukul 20.00 WIB. Aku telah selesai mandi, lalu kuoleskan alas bedak di wajahku. Tak lupa pula, bedak dan perlengkapan kosmetik lainnya seperti; lipstik, blush on, eyeshadow, eyeliner, parfum, dan lainnya. Semua itu telah melekat dalam keseharianku. Dan kini, aku tinggal memakai pakaian yang cocok dengan riasanku. Aku pasti kelihatan lebih cantik dari yang lain. Dan, pria-pria itu pasti terpesona dengan kecantikanku. Karena mataku, selalu memancarkan kilau itu. Biru, ya... mataku berwarna biru seperti mata-mata orang bule. Mungkin benar, aku memang anak bule. Tapi bule darimana, aku tak tahu. Ibu tak pernah menceritakannya padaku. Ibu juga tak tahu mata biru itu milik siapa.

Pukul 21.00 WIB. Alarm di ponselku telah berdering beberapa menit yang lalu. Menandakan bahwa waktunya telah tiba, dan aku siap untuk berangkat kerja. Mencari recehan uang dari lelaki hidung belang. Entahlah, aku tak memikirkan asal usul mereka. Aku cuma perlu uang, uang dan uang. Uang yang membuatku lebih dihargai. Meski jujur, aku tak suka dengan caraku mendapatkan uang tersebut. Tapi apa boleh buat? Inilah kisahku.
Tiap malam, aku selalu pergi ke markas para wanita cantik. Dengan dandanan yang tak terlalu menor dan pakaian yang minim. Pun, bahan yang pas di badan alias ketat sehingga memperlihatkan kesan seksi saat pandangan pertama. Awalnya aku tak pernah ingin berkecimpung dengan dunia ini. Dunia yang bagiku terlalu kotor. Dan jujur, semakin aku terjun di dalamnya, aku semakin merasa kotor dan tak pernah bersih apalagi suci.
Ya Tuhan, salahkah jika aku begini? Perlahan, air mataku tumpah. Aku sudah tak tahan lagi. Satu, dua lelaki mungkin pernah menyukaiku. Tapi tak jarang, ada juga yang tak suka. Kalau aku boleh jujur... aku juga tak suka. Aku ini laki-laki, sama seperti mereka. Cuma saja, parasku memang cantik. Cantik seperti wanita kebanyakan. Bahkan, mungkin wanita-wanita yang menjajakkan dirinya merasa iri padaku.
Pukul 21.12 WIB. Aku terlena dengan pikiranku. Seharusnya aku sudah berangkat sedari tadi. Lalu, dengan langkah terburu-buru, aku pergi meninggalkan kamar kosku. Ya, aku memang tinggal sendiri setelah ibu meninggalkanku. Aku tak mengenal siapa-siapa di kota besar ini. Yang aku kenal, cuma salah satu teman ibuku yang bekerja di sebuah pub. Ibu tentu saja berpesan padaku sebelum ia benar-benar pergi untuk selamanya. Dan disinilah aku, di sebuah pub yang selalu buka kala malam menjelang.
Pukul berapa, aku lupa. Tapi satu yang kuingat, aku bertemu dengan salah satu pelanggan yang membuatku tersipu malu. Sebut saja namanya Pram. Ia lelaki yang lembut. Ia tak ingin menyakitiku apalagi meraba-raba atau seperti yang biasa dilakukan oleh lelaki lain. Ia juga tak ingin aku melayaninya dengan hal-hal semacam itu. Ia malah memintaku untuk menemaninya berbincang-bincang. Kuakui, Pram memang berbeda. Sekonyong-konyong, ada sesuatu yang terasa mengalir begitu deras dalam darahku. Perasaan yang tak tahu harus kunamai apa.
Sabtu, 30 Maret 2013.
Pukul 22.30 WIB. Aku bertemu lagi dengan Pram. Pram pun seolah tak ingin dilayani oleh wanita lain. Aku tentu saja senang, selain ia memperlakukanku lembut, ia juga tak kurang ajar. Perlahan tapi pasti, aku mulai menyukainya. Salahkah perasaanku ini? Walaupun kami baru bertemu dua hari di hari Sabtu, tapi entah kenapa rasanya seperti sudah lama pernah bertemu. Aku senang bila ia berbicara panjang lebar padaku. Menceritakan kisah hidupnya yang terasa hampa tanpa pendamping. Sementara aku… aku tak tahu harus darimana kuceritakan kisah hidupku padanya. Aku juga ingin mempunyai pendamping, tapi apakah ia mau menerimaku kalau ternyata ia tahu tentang kondisiku? Pun, pada waktu yang mungkin menyambut perasaanku pada perasaannya? Entahlah.
***
“Mulan, kamu lagi sibuk nggak?”
“Tidak, Pras. Aku tak sibuk kalau hari Sabtu begini. Waktuku akan selalu ada untukmu.”
“Temani aku ngobrol seperti biasa, bisa kan?”
“Tentu saja. I’m ready for you, Pras.”
“Kamu itu! Aku udah pernah bilang jangan ngomong seperti itu kalau denganku. Kalau dengan lelaki lain, terserah apa katamu.”
“Pras, ini sudah tugasku.”
“Apa mereka tahu tentang perasaanmu yang sebenarnya?”
“Maksudmu?”
Pras mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tasnya. Isinya tak bisa kutebak.
“Maaf, Mulan. Aku nggak sengaja menemukan bukumu di jalan. Kupikir, lebih baik kukembalikan padamu. Maaf juga, Mulan. Aku nggak sengaja membaca beberapa halaman yang kamu tulis. Aku tahu aku salah, aku cuma ingin tahu kamu lebih dalam. Tapi ternyata….”
“Ya, kamu berhak tahu, Pras. Aku memang bukan wanita. Aku sama sepertimu. Tapi perasaanku padamu terbentuk secara alami. Aku juga tak mengerti, apakah perasaan ini terpengaruh dengan kondisiku yang tak seharusnya kuceritakan padamu?”
“Maksud Mulan apa?”
Aku membisikkan sesuatu kepada Pras. Jujur, aku tak ingin orang-orang yang ada di pub tahu akan kondisiku. Bagiku, biarlah mereka mengenalku sebagai wanita.
“Mulan, kalau memang begitu… bukalah kotak ini!”
Aku membukanya pelan-pelan. Tak kusangka, bukan hanya buku harianku yang ada disana melainkan ada juga sebuah gaun indah berwarna silver. Apa ini artinya waktuku menjadi laki-laki sudah berakhir?
“Pras, ini….”
“Iya, itu gaun buatmu. Aku tahu banyak tentang perasaan yang kamu alami. Itu wajar saja. Apa aku boleh meminta satu hal padamu? Tak perlu jawab sekarang, aku cuma perlu jawaban yang jujur dari hatimu.”
“Apa itu, Pras?”
“Menjadi TG* memang nggak mudah, Mulan. Tapi aku yakin kalau kamu bisa. Terlebih… jika kamu memang mau, aku bersedia membayar biaya operasi GK*mu. Seperti yang kamu bisikkan padaku tadi. Bagaimana?”
“Pras, aku tak tahu harus bilang apa. Aku senang malam ini. Terima kasih ya karena kamu membalas perasaanku.”
“Tentu saja, Mulan. Lelaki mana yang tidak tergoda dengan kecantikanmu. Meski nama aslinya mungkin bukan Mulan.”
“Melainkan Mufti Lando.”
Kami tertawa. Lebih tepatnya menertawakan kujujuran yang telah terungkap. Kejujuran yang berbuah manis. Dan memang benar, kejujuran pasti akan berakhir indah walau awalnya terasa sakit.
#IWriteToInspire for #14DaysofInspiration ~ Honesty (Kejujuran)
*TG >> Trandsgender
*GK >> Ganti Kelamin

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...