Sabtu, 20 April 2013

Kebaya

Hari minggu ceria, aku malas bila diam di rumah saja. Lalu aku pergi ke rumah tetangga di belakang rumahku. Niatnya sih cuma mau sebentar saja sembari mengusir penat. Eh… malah asik nge-gosip.

“Gimana, La? Kebayanya bagus kan?” tanya Ratna di depan cermin besar dalam kamar tidurnya, ia berputar-putar kagum.
“Bagus. Modelnya juga oke punya, kayak kebaya-kebayanya Anne Avantie.” Pujiku.
Kebaya modern bernuansa hijau itu sangat pas sekali di tubuh Ratna. Aku sendiri belum mempunyai kebaya sebagus itu.
“Wah, pujianmu berlebihan, Lila. Tapi Ratna senang.”
“Ngomong-ngomong, ada berapa koleksi kebayamu, Na?”
“Banyak, banyak banget! Sini ikut Ratna, kita hitung-hitung dulu.”
Ratna pun mengajakku memasuki sebuah ruangan yang di dalamnya berdiri kokoh beberapa lemari dan rak sepatu. Ratna memang beruntung karena termasuk keluarga kaya di kampungku, Singkawang – Pontianak.
*
“Permisi… Assalamu’alaikum…” suara seseorang terdengar dari luar rumah, tak ketinggalan ketukan pintu sebelumnya.
Kak Laila membuka pintu, mendapati pria bermata teduh yang tak asing di matanya, “Nizam… masya Allah, apa kabar?” ujar Kak Laila senang.
“Baik, Kak. Lila ada?”
“Ohh… ada, bentar ya Kakak panggilkan. Duduk dulu di teras, Zam.”
Kak Laila masuk ke dalam rumah, memanggil-manggil namaku, “Lila… ada Nizam nih.”
Tak ada sahutan, Kak Laila mencoba memanggilku kembali, “Lila… Lila…” lalu mencariku ke sekeliling rumah tapi tak menemukanku. Kak Laila keluar dengan kecewa, menghampiri Nizam yang masih duduk manis di teras depan rumah.
“Lila nggak ada ya, Kak?” tanya Nizam seolah mengerti kekecewaan Kak Laila.
“Tadi ada tapi kok tiba-tiba menghilang ya?!”
“Ya udah, nggak apa-apa, Kak. Nizam nggak bisa lama-lama nih, titip ini ya buat Lila.” Ucap Nizam sopan, lalu menyodorkan sebuah kotak segi empat bermotif bunga-bunga.
*
Pukul 16:00 WIB, Kak Laila menuju belakang rumah, hendak mengambil air wudhu. Aku yang tak tahu-menahu, nongol begitu aja di hadapan Kak Laila.
Kak Laila heran melihatku lalu tiba-tiba memarahiku tanpa alasan. Katanya, aku pergi nggak bilang-bilang padanya. Emang sih… aku main nyelonong aja tanpa pamit.
“Maafin Lila, Kak.”
“Lain kali jangan diulangi lagi ya, La. Kalau pergi kemana-mana tuh harus bilang.”
Aku cuma manggut-manggut dalam sesal. Eh, sesalku bertambah lagi ketika Kak Laila memberitahu ada Nizam tapi ternyata, Nizamnya udah pulang karena aku nggak ada di rumah. Nizam hanya meninggalkan titipan tanpa pesan.
*
Nizam, apa kabarmu? Batinku pilu mengingat peristiwa itu. Sejak kau pindah ke kota yang jauh entah dimana, yang katamu bernama Solo, aku tak bisa bercerita banyak lagi. Bahkan, tentang kebaya lusuhku yang esok harus kupakai lagi dalam acara Kartini. Perlahan, aku melirik kotak segi empat pemberianmu lalu membukanya. Ini kebaya yang sangat bagus, Zam.

Inspirasi:
Kebaya Modifikasi Anne Avantie Kombinasi Batik


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

No comment - No cry
Meskipun komenmu sangat kuhargai disini :')

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...